BARA The Dark Age of Banda : Ngomik bersama pembuat film

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman dalam membuat komik BARA yang merupakan hasil kerjasama antara Kosmik dan Lifelike Pictures. Komiknya sih sampai saat saya menuliskan blog ini masih dalam pengerjaan, tapi saya mau bercerita mengenai proses pre production komiknya. Bagi yang mengikuti kiprah ngomik saya sejak awal debut, tentunya tahu kalau saya pernah membuat komik MERDEKA di Bukit Selarong dan MERDEKA di Sunda Kelapa. Ya, saya memang sudah terobsesi dengan sejarah sejak lama. Sejak komik MERDEKA, sudah ada dua judul lain yang bersinggungan dengan sejarah, Bataavia dan Suryaraka. Tapi di Bataavia saya hanya mengambil setting saja, sedangkan yang benar-benar sejarah adalah Suryaraka yang menceritakan keruntuhan Singhasari dari sudut pandang pemuda bernama Agni.

Namun ada hal yang berbeda pada komik BARA ini, karena ini adalah hasil kerjasama dengan Lifelike pictures yang memproduksi film BANDA the Dark Forgotten Trail. Ada beberapa hal yang mendapatkan treatment berbeda dalam proses pembuatan komik dibanding yang saya lakukan selama ini, terutama saat preproductionnya.

Sebelum saya lanjut, ijinkan saya curhat dari pengalaman yang didapat dari membuat komik berlatar sejarah selama ini.

 

“BIKIN KOMIK SEJARAH ITU UDAH SUSAH, GAK BANYAK YANG BACA, TAPI YANG LANGSUNG NYINYIR BANYAK.”

 

Susah soalnya harus ngeriset sejarah dulu

Gak banyak yang baca karena ya emang ga banyak yang tertarik sama sejarah

Langsung nyinyir karena baru ngeliat sinopsis, desain, belum baca komiknya langsung komen udah kayak pakar sejarah harusnya begini begitu

strip nyinyir komik sejarah.jpg

 

Makanya saya selalu mikir-mikir untuk membuat komik berlatar sejarah lagi dan merasa bersyukur bila ada yang mau menerbitkan/membantu membuat komik seperti ini. Terima Kasih. Dan juga terima kasih untuk yang sudah mensupport dengan membeli komik saya, sekali lagi Terima Kasih Banyak.

Oke, saya akan langsung lanjut ke berbagi pengalaman dalam preproduction komik Bara yang berbeda ini.

 

  1. Tidak ada storyboard, desain, dan sample komik. Cerita/Plotnya harus sudah oke dulu baru lanjut.

Selama ini tiap saya mengajukan cerita komik ke penerbit biasanya sudah membuat storyboard komik satu chapter, jadi sudah kebayang seperti apa cara bercerita komiknya. Kalau belum menemukan penggambar, biasanya saya sendiri sudah membuat draft konsep desain karakternya seperti apa. Tentunya selain premis, sinopsis, dan plot paling tidak 4-6 chapter komiknya. Tapi tidak untuk komik BARA ini. Saya diminta untuk membuat plot detailnya yang terbagi dalam beberapa babak layaknya film secara cukup detail. Saya cukup kesulitan disini karena membuat cerita keseluruhan lalu mempresentasikan ke banyak orang merupakan hal yang baru buat saya. Apalagi proses asistensi dalam ruang meeting yang diisi banyak orang, padahal biasanya sama editor saja. walau sesekali ada pihak lain dari penerbit juga ikutan, tapi pressurenya berbeda dengan meeting komik BARA.

 

DSC01753.JPG

Setelah rangka keseluruhan cerita oke, baru saya mulai membuat storyboard, Kello mulai mendesain karakter, dan lanjut ke pembuatan komiknya.

 

2. Ini adalah kolaborasi bukan karya sendiri

Awalnya saya menulis bebas sesuai imajinasi saya sendiri sampai akhirnya keluar dari jalur, yaitu ini adalah bagian dari film dokumenter sejarah BANDA The Dark Forgotten Trail. Berhubung sejarah banda itu banyak sekali yang menarik dan saya ingin mencoba menceritakan semuanya dalam satu kesempatan akhirnya jadi melenceng jauh dari sejarah. Saya sempat mencoba menggabungkan peristiwa perang di Banda dan pertukaran pulau Run bersama Inggris. Mungkin kalau ini adalah komik saya sendiri, hal itu lumrah saja terjadi. Tapi disini saya sadar kalau ini adalah komik produksi kosmik dan lifelike pictures, ada misi memperkenalkan sejarah disini. Namun akhirnya saya menemukan solusi, nantinya beberapa kisah sejarah lainnya akan dibuat dalam bentuk komik strip. Semoga dengan ini jadi lebih menarik perhatian orang dengan tetap pada jalurnya juga.

 

sketsa 00 chapter 01 n.jpg

 

Yang jelas saya belajar banyak dalam membuat komik dengan beberapa pihak yang memegang satu IP dalam komik BARA ini.

 

3. Riset lokasi yang seru

Sebelum lanjut, saya menginfokan kalau Abdul Kholik (Kello) yang menggambar komik BARA baru sembuh dari sakit dan tidak bisa beraktifitas luar yang berat, makanya dia tidak bisa ikutan survey. Kita bekerjasama via internet.

 

Saya adalah tipe orang yang berusaha untuk mendatangi lokasi yang akan dijadikan setting dalam komik yang akan dibuat. Dan ini adalah salah satu kesulitan apabila lokasinya jauh dari tempat tinggal saya. Seperti ketika membuat MERDEKA di Bukit Selarong, saya yang waktu itu masih ‘pengangguran’ yang nggak punya uang, tidak mampu untuk pergi ke Gua selarong untuk sekedar melihat seperti apa sih guanya. Akhirnya saya hanya mengandalkan google image dan ujung-ujungnya mengandalkan fantasi. Toh, komiknya juga fiksi di dunia buatan. Tapi tetap saja saya merasa risih sebetulnya. Lalu ketika akhirnya memiliki cukup uang, saya rela merogoh kantong pribadi untuk mampir ke Trowulan, Mojokerto, waktu akan membuat komik Suryaraka. Disini saya merasakan perasaan tenang, karena kalau ditanya apa-apa paling tidak saya sudah mendapatkan gambaran mengenai lokasi dan bangunan kerajaan di masa lalu itu seperti apa. Nah, begitu membuat komik BARA ini baru saya merasakan riset lokasi paling seru, asyik dan paling menyenangkan.

Menyenangkan soalnya kali ini saya tidak keluar uang untuk melakukan riset/survey lokasi XD

 

DSC09013.JPG
Kapal cepat yang membawa saya sampai ke pelabuhan Banda Neira

 

Tapi jujur saja, waktu masih kerja di TV saya suka ngiri ngeliat tim produksi film maupun program TV yang akan pergi ke lokasi untuk liputan maupun survey sebelum syuting. Saya mendambakan kalau hal seperti itu dapat terjadi dalam membuat komik. Dan akhirnya kejadian di komik BARA, saya diberangkatkan untuk merasakan atmosfir Kepulauan Banda selama 5 hari 4 malam. Saya juga jadi sempat menjejakkan kaki di kota Ambon karena kalau mau ke Banda harus naik kapal cepat dari Ambon.

 

“Ockto the Explorer”

 

saya yang biasanya jadi hikkikomori, ngendon di kamar aja, tiba-tiba jadi petualang, explorer, karena rasa penasaran saya menguasai tubuh dan pikiran. Saya menjelajahi hampir semua pulau di Kepulauan Banda, sendirian pergi kemana-mana sampai ngerusakin motor penduduk. Habis kapan lagi bisa ke Banda. wkwkwk.

Seru soalnya saya datang pas kru film BANDA  The Dark Forgotten Trail masih syuting di hari-hari terakhir. Mereka syuting sekitar 3 minggu dan saya datang di 2-3 hari terakhir syutingnya, jadi saya sempat melihat ribetnya orang bikin film. Di hari pertama saya naik perahu bareng kru, mbak Lala Timothy dan mas Jay, menuju Banda Besar (kami nginap di pulau Banda Neira). Sesampainya di lokasi syuting, usai melihat-lihat saya langsung disiapin ojeg sam mas Ariel (PA film Banda) untuk berkeliling Banda Besar. Menariknya, ada satu benteng namanya benteng Concordia yang saya tahu usai membaca buku yang ingin saya datangi. Salah satu tujuan utama saya adalah mengunjungi semua benteng yang ada, namun kru bilang mereka dapat informasi kalau bentengnya sudah tidak ada/hancur. Saya yang penasaran tetap meminta kesana, satu ojeg menolak karena jalurnya sulit dan satu lagi mau setelah berkali-kali meyakinkan saya kalau jalanannya berbatu ngegojlek-gojlek tapi saya tetap bersikeras mau kesana.

 

nembus bukit.JPG
Perjalanan menembus bukit, jalannya yang terjal sulit dilalui kendaraan.

 

Setelah memotong bukit, satu jam lebih pantat sakit kena gojlek-gojlek jalanan berbatu, akhirnya sampai juga. Ternyata bentengnya masih ada dan hampir utuh dindingnya. saya videokan, lalu istirahat sambil melihat aktivitas di pelabuhan desa wayer, dan kemudian kembali ke lokasi syuting. (Per motor rusak pas sampe lokasi, untung mas ojegnya baik, gpp nanti tinggal diganti katanya).

 

DSC09744.JPG
Bapak ojeg yang nganterin saya beberapa kali jalan ngedorong motor karena jalanan masih belum selesai dibangun.
ojeg.JPG
Bersama bapak yang sudah saya repotkan nganter ke benteng Concordia, maaf saya lupa nama bapak T^T

 

Mbak Lala nanya bagaimana tadi? saya jawab ketemu bentengnya, dan menunjukkan videonya. Mbak Lala kaget dan kemudian menunjukkannya ke Mas Jay yang kemudian meminta kru untuk mengambil gambar benteng itu besoknya. Seusai syuting, bang Oscar (salah satu unit Camera film Banda) bilang kalau untung saya kesitu. Kalau nggak, mereka bakal kelewatan satu gambar bagus. Begitulah awal mula saya dijuluki petualang. Haha. Tapi beneran si, setelah nonton filmnya di press screening saya sadar kalau hasil penemuan benteng concordianya kepake banget di scene tentang penjelasan nama-nama benteng.

 

14597441_1164454493604335_6400443535325134848_n.jpg
Menemukan Benteng Concordia yang katanya udah gak berbekas.
concordia.JPG
Kalau anda sudah menonton filmnya mungkin menyadari footage benteng concordia yang kokoh berdiri tepat di pinggir laut.

 

Dan memang, selanjutnya saya benar-benar bertualang sih. Ketika di hari berikutnya saya ikut kru menuju pulau Ai, usai berkeliling di benteng Revenge saya bilang mau mampir ke pulau Run dan ngeliat pulau Nailaka yang kecil. Oh iya, kepulauan Banda terdiri dari 6 pulau dan 4 pulau kecil tak berpenghuni kalau tidak salah ingat. Pulau Run dan Ai berdekatan dan ada di ujung. Dan kemudian saya ke pulau Run sendirian, iya sendirian, kesannya si ngenes sendirian tapi buat saya justru buset gokil banget! gimana nggak gokil? itu satu kapal dengan 2 awak kapal ngelilingin pulau Run dan Nailaka cuman buat saya sendiri!! Asli kalau sendirian ga bakal kebayang si, maksudnya biaya kapalnya aja udah berapa terus make sendirian buat ngeriset.

Saya pun turun di pelabuhan di pulau Run dan mengelilingi pulau sampai saya tersesat di tebing curam. Serius, saya nekat nerobos pagar yang ada peringatan soalnya kirain untuk ke bekas tempat VOC ada disitu ternyata nggak. Untung muter-muter ketemu rumah penduduk dan akhirnya dikasih tahu arah. kemudian hal gokil lain terjadi, saya udah jalan menembus hutan mau ngeliat ujung dibalik pulau yang katanya bagus tapi takut kelamaan akhirnya balik lagi. Tapi pas cerita ke awak kapal, mereka nawarin untuk nganterin kesana setelah mencari ojeg yang tak kunjung muncul. Kapal pun memutari pulau buat saya sendiri, dan ketika sampai di pantai kecil di balik pulau saya digendong supaya kaki tidak basah kena air laut. Habis disini tidak ada pelabuhan dan kapalnya tidak bisa sampai ke bibir pantai yang kering. Buset dah, padahal niat saya cuman mau lihat-lihat sebentar dan emang setelah 20-30 menit naik tanjakan dan foto-foto tebing dan pantai berbatu saya langsung kembali ke pulau Ai. Sekali lagi wow, ini perjalanan privat yang nggak akan bisa saya dapatkan lagi mungkin.

 

DSC00199.JPG
Satu kapal dan dua awak kapal yang nganterin saya bertualang ke pulau Run sendirian, berasa kayak tamu VIP.

 

Lalu di hari ketiga, ketika libur usai syuting saya dan kru naik gunung api. Dimana dari awal saya memang sudah berangan-angan untuk menapaki puncak gunung yang ingin saya jadikan salah satu setting cerita. Untungnya di hari libur sebelum kembali ke Jakarta ini kru-kru film pada mau naik gunung jadi saya bisa ikutan. Senang!

 

15046789_1360520227300423_4528237097378643968_n.jpg
Bersama kru film Banda dan warga Banda asli di puncak gunung api kepulauan Banda.

 

Berkat keliling-keliling pulau Banda Neira pun saya jadi bisa berinteraksi dengan warga yang kebanyakan tidak tahu kisah kepulauan tempat tinggal mereka yang kaya akan nilai sejarah. Semoga dengan film dan komik ini masyarakat Indonesia jadi tahu, seperti saya yang jadi tahu banyak begitu sampai kesana. Saya berharap supaya saya bisa melakukan riset seperti ini lagi di komik-komik saya yang lain.

 

4. Kebersamaan bersama kru film yang menambah semangat

Waktu di TV saya pernah ikutan liputan arus mudik. Berpanas-panasan, kena debu, makan bareng dan banyak hal lain yang dilakukan bersama-sama memberikan atmosfir tersendiri dan memberikan semangat berbeda dibanding waktu diam saja di ruang editing menunggu hasil liputan. Dan kini, saya merasakan syuting bersama kru, makan bareng, naik gunung bareng, ngobrol-ngobrol sejenak, dan terutama ikut merayakan wrap up party entah kenapa membuat saya semakin bersemangat untuk memberikan yang terbaik pada komik BARA.

 

15203329_10154091201639013_7559023359526536361_n.jpg
Bersama kru film Banda di pulau Banda Besar usai syuting di kediaman Pongky Van Den Broeke

 

Apalagi pas wrap up party, acara syukuran syuting telah selesai, ada banyak games-games seru. Kata krunya sih baru ngerasain games-games berhadiah, salah satunya iphone, di produksinya lifelike pictures. Yang jelas walau saya hanya nonton dan makan saja, ini cukup menggugah hati. Sayang penggambar komiknya, Kello, tidak bisa ikutan.

 

15203294_10154099559869013_1490116103776883194_n.jpg
Wrap Up Party di hotel Nutmeg Tree yang dikelola Bang Reza, salah satu pemerhati Sejarah Banda.
DSC_1535.JPG
Hidangan Seafood Wrap Up Party, cemilan lainnya menyusul :p

 

5. Storytelling Eropa

Setelah mendapatkan kerangka cerita dari awal sampai akhir, sejujurnya saya ketakutan bagaimana bisa menceritakannya dalam 200++ halaman cerita komik sesuai rencana. Sebab kalau dari cara saya bertutur yang sangat terpengaruh oleh komik Jepang rasanya mustahil. Oleh karena itu, saya pun mulai memikirkan alternatif lain.

 

Bara#02_isi_LRF_P02.jpg

 

Walau bisa dibilang saya adalah penggemar komik Jepang, tapi saya juga membaca komik Eropa dan Amerika. Dan menurut saya cara bertutur komik Jepang sangat berbeda dengan komik Eropa maupun Amerika. Cara bertutur komik Jepang sangat detail tiap adegan, tiap ekspresi, hingga akhirnya adegan pertarungan pun bisa habis satu chapter tersendiri dimana dalam komik Eropa dan Amerika bisa saja selesai dalam 1-3 halaman saja. Dengan pertimbangan inilah saya memutuskan untuk mencoba mengadopsi gaya bertutur komik Eropa dan belajar dari komik Master of Arms karya Xavier Dorison dan Joel Parnotte, setelah mencoba-coba mencari referensi lain termasuk dari komik Amerika. Cerita sepadat feature film saya coba tuangkan dalam 200++ halaman komik dan terbagi dalam 4 buku komik full color. Ya, bisa dibilang ini adalah tantangan sendiri juga buat saya. Mencoba melakukan gaya bertutur yang jarang saya lakukan sebelumnya.

Saya berharap cara bertutur saya yang berbeda dari yang biasa saya lakukan ini berhasil dinikmati pembaca.

 

05 - lineart_bara_chapter_02_06_color kecil.jpg

 

***

Sejujurnya saya senang dengan project ini karena bersinggungan dengan sejarah dan menambah wawasan saya mengenai sejarah daerah timur indonesia. Sebab sebelum ditawarin proyek ini, saya benar-benar tidak tahu apa itu pulau Banda. Saya tahu JP. Coen yang pertama kali membuat pusat perdagangan VOC di Batavia, tapi saya tidak tahu banyak kiprahnya sebelum di Batavia yang ternyata gelap sekali.

Terima Kasih banyak kepada Lifelike Pictures dan Kosmik yang memberikan saya kesempatan membuat komik BARA ini dan juga kepada pembaca yang mendukung komik fiksi sejarah ini.

Komik BARA The Dark Age of Banda bisa dibeli online lewat https://kosmik.id/store dan https://www.tokopedia.com/kosmikstore

PO sebelum Popcon dapat bonus print A5

20294181_1596000737108877_8019972338336350932_n.jpg

Ockto the Explorer di pulau Banda akhirnya pulang ke rumah dan menjadi hikkikomori lagi XD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis Komik Part 2 – Semudah itukah menulis komik?

 

Seperti pada penulis komik part 1, tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi dan dari komik-komik yang sudah saya buat selama ini, jadi maaf kalau anda bingung karena belum pernah membaca komik-komik saya. Semoga yang membaca tulisan ini sudah tahu komik apa saja yang pernah saya buat. Bagi yang belum baca, silahkan dibeli 🙂

 

Mau tidak mau, apapun yang dikerjakan biasanya memang suka dibanding-bandingkan apalagi dalam menghasilkan suatu karya hasil kerja kelompok. Hal ini suka saya alami sejak masa sekolah sampai kuliah, siapa yang paling berjasa dan merasa paling berat kerjanya dan kemudian harus diapresiasi lebih. Lalu hal ini juga terjadi dalam dunia kerja, baik kantoran maupun tidak. Saya yang pernah bekerja di stasiun televisi sudah cukup kenyang dengan curhat rekan kerja yang merasa bebannya lebih berat dibanding yang lain dan ada yang merasa dirinya kok kurang diapresiasi hanya karena bukan merupakan bagian inti dari sebuah tim, padahal tanpa pihak tersebut sebuah konsep tidak akan menjadi tayangan utuh dan dapat mengudara. Tanpa mau membahas terlalu detail dari urusan perkantoran, dalam membuat komik terutama dimana penulis cerita dan ilustratornya merupakan orang yang berbeda kadang hal membanding-bandingkan ini juga suka diperbincangkan.

Kenapa diperbincangkan? tentu saja karena menyangkut hal yang sensitif, yaitu apresiasi dari hasil kerja bagiannya berupa honor / pembagian bayaran. 

 

“Coba pikir, kerjaanmu kan lebih enak dibanding yang gambar. sebentar doang kok, kalo yang gambar kan butuh waktu lama, lebih capek.” Kira-kira seperti itu omongan yang pernah saya terima maupun jadi bahan diskusi. Tak peduli dari kalangan amatir maupun yang sudah ada di industri.

 

Awalnya memang saya berpikir iya juga, saya nulis cerita berupa storyboard komik sebanyak 24 halaman bisa selesai dalam waktu 3-4 hari saja (kalo ngebut bisa seharian tapi jarang), paling lama seminggu. Bandingkan dengan ilustratornya yang kadang butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikannya (kalo ngebut bisa seminggu kali ya), kalau berwarna lebih lama lagi.

“Nah enak kan. jadi pembagian bayarannya banyakan ilustratornya, yah.”

 

TUNGGU! Jangan seenak itu menentukan gedean mana!

iya 3-4 hari itu nulisnya, tapi jangan lupakan proses bagaimana saya akhirnya bisa menulis cerita itu dalam waktu sependek itu. Capek jelasinnya, jadi saya jabarkan saja pengalaman dalam menuliskan cerita-cerita dari komik saya berikut:

 

329541_10150355606630021_710780020_10087627_7902047_o.jpg
Saya bersama kru tim Reportase Pulang Kampung 2011 di jalur Pantura

5 MENIT SEBELUM TAYANG. Komik yang dibuat akhir tahun 2011 ini tidak serta merta begitu saja langsung saya tulis. Setelah satu tahun lebih terkatung-katung tidak punya uang demi ngomik, akhirnya saya cari kerja dan diterima di sebuah stasiun televisi. Selama bekerja saya suka dengar curhat rekan kerja di kantor, 2 tahun berlalu dan saya masih belum berani untuk segera menuliskan cerita mengenai kehidupan di balik dapur televisi ketika Makko mengusulkan untuk mengomikkannya. Saya kemudian diam-diam mendatangi lokasi yang suka diceritakan rekan kerja seperti palhit, jalur kereta, dll. Saya ngefotoin suasana kantor diam-diam supaya lebih natural, lalu memperhatikan lebih detail mengenai pekerjaan yang dilakukan para reporter dan kameramen. Baru saya mulai menuangkannya dalam sebuah storyboard komik. Jadi ada 2-3 tahun proses depresi, mencari kerja, meriset dan memperhatikan detail sebelum saya menghabiskan waktu sekitar 3 hari untuk membuat chapter 1 storyboardnya untuk dipitch lalu di-Oke-in Makko. Setelah itu saya nanya-nanya, foto-foto lagi dan hal lainnya sebelum membuat chapter-chapter selanjutnya. Kekayaan wawasan inilah yang menjadi salah satu penyebab komik ini meraih penghargaan 6th Silver Manga Award Prize.

5 menit sebelum tayang_resign02_p015.jpg
Seusai mendengar curhatan, saya mendatangi lokasi dan memotretnya untuk referensi

 

denah copy n.jpg
Saya membuat denah berdasarkan foto-foto untuk memudahkan menggambarkannya

 

SURYARAKA. Beberapa buku sejarah sudah saya baca sebelum mulai menulis cerita ini. Dan uang pribadi yang sudah dikeluarkan untuk datang ke Trowulan melakukan riset serta rasa capek juga termasuk dari proses yang saya lakukan sebelum membuat satu chapter storyboard komiknya dalam dua minggu berikutnya. Dan asal tahu saja, sebelum jadi Suryaraka sebetulnya saya sudah membuat ceritanya 150an halaman tamat dengan judul berbeda dan sudah di-oke-in sebuah penerbit sampai akhirnya proyek tersebut batal. Akhirnya cerita itu saya scrap dan ditulis ulang begitu ada tawaran dari penerbit lain, Kosmik. Jadi cerita ini sudah mendem 4 tahunan sebelum akhirnya keluar walau harus ditulis ulang.

11218828_10204934978230008_3796966263546204719_n.jpg
Mendatangi kolam segaran di Trowulan untuk mendapatkan inspirasi langsung

 

facebook.jpg
Salah satu inspirasi komik Galau Man

GALAU MAN. Mungkin kalian berpikir kalau ini adalah komik yang gampang dan simpel nulisnya. Tidak butuh riset dan lainnya. Namun sejujurnya sebelum akhirnya saya mendapatkan ide pahlawan yang berubah dari kegalauan, saya sudah mengajukan 3 konsep cerita yang ditolak. Lalu saya diusulkan untuk menulis cerita tentang romantisme di kehidupan perkantoran berhubung saya juga adalah karyawan kantoran perusahaan besar, siapa tahu bisa dapat ide bagus. Ngonsep, nulis, ngonsep, nulis, dari cerita tentang orang yang rela melaukan apa saja demi meraih pujaan hati sampai akhirnya terbersit ide nyeleneh, berubah karena ditolak. Jadi tidak segampang itu menemukan ide yang kelihatannya biasa saja, lalu meramukannya supaya menarik. Tidak sesimpel itu saya menghasilkan ide gimana kalau aplikasi medsos di gadget bisa jadi kekuatan para villain dan sebagainya, tetap butuh riset. Serius, saya tadinya nggak make foursquare, instagram, apalagi twitter yang isinya banyakan tulisan. Satu persatu saya install dan gunakan, merhatiin penggunanya ngapain aja dan fitur medsos itu apa aja. Sampai menentukan kekuatan aplikasi itu apaan, ya itu tetap riset. Nggak langsung saya ngehabisin 10-15 menit ngetik deskripsi karakter terus minta ilustrator ngedesain tampilannya.

status facebook galau.png
nongkrongin TL ngeliat isi kegalauan juga riset loh!

 

Lalu mengenai bagaimana saya bisa membuat beberapa cerita komik sekaligus? saya merasa saya bisa melakukannya karena beberapa hal yang dibutuhkan untuk cerita itu (sejarah dan pengetahuan) cerita seperti Suryaraka, Jamu Sakti, Bataavia  sudah saya lakukan jauh-jauh hari karena rasa ketertarikan saya. Saya sempat membaca hal-hal tentang kolonialisme makanya saya kepikiran cerita Bataavia dan bisa menuangkannya sembari membuat Galau Man dan lainnya. Kalau saya tidak tahu apa-apa tentang Batavia sebelumnya maka tentunya saya akan butuh waktu lama dan menghabiskan banyak tenaga sehingga tidak yakin apakah bisa membuat ceritanya di tengah kesibukan membuat cerita Galau Man dan Suryaraka.

 

Ya, yang jelas ada proses sebelum saya memulai membuat cerita komik-komik. Ini yang suka dilewatkan karena gak keliatan.

Dan lagi, tingkat kesulitan membuat cerita komik memang berbeda-beda sih. Tapi buat dibahas di lain waktu aja kali, yah.

 

Lalu kalau ada yang masih bilang enakan jadi penulis komik karena bisa menulis banyak komik sekaligus, saya cuman bisa bilang ya silahkan lakukan hal seperti saya. Cari liustrator yang mau bekerjasama, yakinkan mereka dengan ceritamu, gol-kan ke penerbit dan terutama hadapi semua deadline yang ada.

nulis komik.jpg
Setelah saya bertele-tele diatas, ternyata penyebab saya lama menulis komik adalah hal lain…

Berhubung udah bayar hosting buat bikin blog, selanjutnya nulis apa lagi ya?

 

Penulis Komik : Part 1 – Apa yang Kamu Tawarkan?

Tiba-tiba kepikiran bikin notes tentang penulis komik, profesi yang saya geluti saat ini. Habis belakangan mulai suka ada yang bertanya-tanya penulis komik tu ngapain aja si? Bahkan sampai ada meme yang ‘agak menyudutkan’ penulis komik kalo saya lihat. Saya nggak nulis tentang teknis penulisan maupun tata cara menulis cerita komik, ada banyak kalo digooglling kok. Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi dan dari komik-komik sudah saya buat selama ini, jadi maaf kalau anda bingung kalau belum pernah membaca komik-komik saya. Semoga yang mau baca notes sudah tahu komik apa saja yang pernah saya buat.
Awalnya saya biasa ngegambar komik sendiri, belasan buku komik di buku tulis bergaris sudah saya buat sejak SD sampai SMA. Jadi saya bukannya mau jadi penulis komik, tapi lebih ke tiba-tiba terdampar dan menekuni untuk bikin ceritanya aja.

“Kenapa mas nggak ngegambar sendiri aja komiknya?”

Pertanyaan seperti ini sering saya dapatka. Jadi jawaban yang simpel dan cepat udah otomatis keluar dari mulut gitu aja, yaitu :

“Soalnya lebih banyak orang yang jago gambar daripada jago bikin cerita,”

Oke, jadi dari tanya jawab tadi bisa ditelaah lagi. Kenapa saya nggak ngegambar sendiri? sebetulnya bukan karena nggak mau, tapi nggak bisa!! saya mulai berhenti ngegambar komik sendiri itu begitu sadar gambar saya nggak berkembang setelah ngebandingin sama teman-teman seangkatan. Alhasil saya jadi lebih fokus ke multimedia dan mulai meninggalkan komik waktu itu. Cuman untungnya karena saya suka nyoba-nyoba software dan saat itu baru kenal komik amerika yang full color jadi penasaran coba-coba ngewarnain digital pake photoshop.
Nah teman kampus saya, Bagus Seta, ngeliat coloring digital saya suka. Terus ngajak kerjasama supaya saya ngewarnain komik dia, saya okein. Akhirnya saya balik lagi ke dunia komik berkat dia. Waktu itu kita bikin komik judulnya “NEWGEN”. Nah pertamanya sih Seta aja yang bikin cerita + gambar, saya fokus ngewarnain. Sampai kemudian waktu saya baca ceritanya rasanya ngerasa ada yang kurang. Saya pun mulai ngasih usulan dan utak atik ceritanya, untungnya Seta oke-oke aja dan ngerasa ceritanya jadi lebih seru. Lama-kelamaan akhirnya posisi saya bertambah jadi colorist + Cerita. Seta yang gambar. Kalau kalian dulu pernah baca majalah Wizard Indonesia mungkin pernah ngeliat karena pernah direview di situ. Ya, pertama kalinya komik saya masuk majalah itu di Wizard Indonesia yang ngebahas komik Newgen ini. Publisher Wizard Indonesia sempat tertarik untuk nerbitin komik saya dan tim Kostkomik, bersama Seta dan Bayu, namun sayangnya Wizard Indonesia udah keburu tutup.
14433027_10206994946767934_5527886577811446820_n r.jpg
Komik Newgen Oleh Ockto, Seta, Yefta (Kostkomik formasi awal)

 

Kalau dari pengalaman saya selama kuliah sih saya menyimpulkan kenapa saya akhirnya malah jadi penulis komik karena saya bisa menawarkan hal yang lebih baik :
  • Awalnya Seta melihat saya mampu menawarkan digital coloring yang menarik, makanya saya diminta jadi colorist komiknya.
  • Lalu setelah membaca tulisan yang saya buat untuk memperbaiki cerita komiknya, ternyata Seta menganggap apa yang saya tawarkan lebih baik. Makanya akhirnya saya juga jadi penulis cerita komiknya.
Sesuatu itu baru disebut komik kalau sudah ada sekuensial gambarnya. Kalau cuma tulisan aja ya gak bisa disebut komik. Di sinilah keunggulan orang yang pandai menggambar. Jadi mereka cukup menggambar sekuensial, panel ke panel, momen ke momen, mau gimanapun ceritanya ya mereka udah bisa bikin komik. Sedangkan misalnya anda hanya memberikan sebuah tulisan, ya mau gimanapun tetep ga bisa disebut komik. Makanya posisi tawar penulis lebih rendah. Yah, paling tidak menurut saya begitu. Kecuali ada faktor lain seperti penulis yang siap bayar atau ternyata selebriti.
“Penulis komik harus bisa menawarkan cerita yang lebih baik, lebih unik, lebih menarik, pokoknya lebih seru dari apa yang bisa dipikirkan oleh orang yang emang udah jago gambar (bikin komik).”
Hal ini yang mendasari pemikiran saya saat akan mengapproach orang lain yang jago gambar supaya mau ngomikin cerita saya.

14370424_10206994989368999_8483970459486859698_n.jpg
Komik Merdeka terbitan Koloni

 Berhubung saya sudah kenal sama Seta dan Bayu sejak kuliah, jadi agak lebih mudah menjelaskan tawaran saya sih. Seta tahu saya seneng sejarah dan cerita lokal nasionalisme gitu, sesuatu yang kurang dikenalnya. Tawaran saya tentunya adalah saya ngeriset sejarah, hunting foto-foto referensi, dan bagaimana membuat sesuatu yang membosankan di sekolah jadi menarik. Rasanya waktu itu belum ada yang seperti ini sih. Seta nggak ngerti banget sejarah jadi menyerahkan kepada saya dan akhirnya jadilah komik Merdeka, yang logonya terkenal di dunia maya tapi komiknya (sayangnya) nggak.

14485033_10206994996409175_8434196071266201762_n.jpg
Komik 5 Menit Sebelum Tayang terbitan Kosmik

Saya tahu Matto dari komik 1SR6, gambarnya bagus banget dan emang cocok untuk cerita slice of life. Cerita 1SR6 juga saya suka, meskipun cukup umum cerita yang seperti itu tapi penyampaiannya enak. Makanya saya sempat ragu, apa orang yang sudah jago membuat komik seperti ini mau berkolaborasi sama saya. Tapi untungnya tema komik profesi yang saya buat, dapur televisi yang belum pernah diangkat sebelumnya ini, berhasil menarik minatnya. Paling tidak itu yang saya pikirkan. Keunikan cerita yang belum pernah diangkat inilah yang menjadi Tawaran saya untuk menarik Matto dan akhirnya tercipta komik 5 Menit Sebelum Tayang.

14502686_10206995005049391_7241790575115143363_n.jpg
Komik Galau Man terbitan Re:ON

 

Saya kenal Ino dari komiknya berjudul Pancanaka. Sejujurnya saya biasa aja sama komik itu, mungkin karena saya kurang tertarik sama pewayangan juga sih. Tapi saya ngeliat action yang ada di komik itu bagus. Makanya saya coba tawarkan cerita komik galauman. Komik yang ada actionnya dengan premis unik, karena belum pernah ada yang kepikiran orang ditolak malah jadi superhero. Puji Tuhan, chapter 1 dengan 7 halaman ceritanya cukup menarik perhatian pembaca re:ON.

 

Ketika sampai di titik ini saya menyadari nilai tawar saya sudah lebih baik dibanding waktu masih awal-awal ngomik. Terima kasih ke perolehan Manga Award dan cukup terkenalnya Galauman maka saya bisa memberikan ‘tambahan’ pada penawaran saya. Tapi saya tetap berusaha untuk menawarkan apa yang ‘lebih’ dari cerita yang saya buat.

 

Seperti mencoba menawarkan konsep jamu sakti dan kekonyolan yang terjadi dalam kekuatan superhero. Mengangkat cerita sejarah kejadian penting yang belum pernah diangkat sebelumnya, bagaimana kita pernah mengusir Mongol. Dan yang terbaru saya mencoba mengangkat legenda-legenda Indonesia dalam sebuah satu dunia cerita. Kira-kira seperti inilah yang saya tawarkan kepada komikus yang menarik perhatian saya dan ingin diajak kolaborasi.

 

Tapi kembali lagi ke awal, ketika baru mau mulai menulis komik tentunya ya benar-benar siapkan penawaran cerita yang terbaik. Jangan karena ngebaca komik orang tentang sepakbola dan bagus terus anda juga nawarin cerita tentang sepakbola yang itu-itu aja. Kalau yang anda baca itu ceritanya tentang sepakbola nasional yang dengan mudah dilihat di TV. Coba anda tawarkan cerita sepakbola dengan tema Tarkam, tapi tentunya anda harus tahu detail tentang tarkamnya. Sesuatu yang nggak diketahui oleh sang komikus sepakbola tersebut. Seperti misalnya setelah anda riset tarkam aslinya ternyata di tiap gawang pasti ada sesajennya, tiap kepala desa pasti udah nyewa dukun biar menang, atau pemainnya ada cabutan dari Eropa gitu biar semakin seru dan mungkin nggak kepikiran oleh komikus yang anda sukai gambarnya.

 

Ya itu contoh saja, silahkan diaplikasikan ke hal lain. Nah, bagi anda yang mencoba menjadi penulis komik juga sebaiknya sebelum tiba-tiba posting / komen seperti :

 

“Ada yang mau bikin komik sama gw? udah punya banyak ide tapi ga bisa gambar :v”
“eh, bikin komik yuk. lo yang gambar gua yang bikin cerita.”

 

Sebaiknya sudah menyiapkan ‘Tawaran’ anda yang menarik dan tidak biasa supaya orang tertarik untuk membuat ide / cerita anda jadi sebuah komik. Supaya kesannya anda tidak seperti orang iseng yang asal-asalan komen dan pada akhirnya membuat profesi penulis komik jadi terlihat gimana gitu…

Pokoknya jangan lupa Tawarannya yang oke, yah.

Terbuka untuk diskusi dan kepikiran untuk membuat part lanjutan ‘Penulis Komik’ 🙂
MERDEKA!!

Blog di WordPress.com.

Atas ↑