Penulis Komik Part 2 – Semudah itukah menulis komik?

 

Seperti pada penulis komik part 1, tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi dan dari komik-komik yang sudah saya buat selama ini, jadi maaf kalau anda bingung karena belum pernah membaca komik-komik saya. Semoga yang membaca tulisan ini sudah tahu komik apa saja yang pernah saya buat. Bagi yang belum baca, silahkan dibeli 🙂

 

Mau tidak mau, apapun yang dikerjakan biasanya memang suka dibanding-bandingkan apalagi dalam menghasilkan suatu karya hasil kerja kelompok. Hal ini suka saya alami sejak masa sekolah sampai kuliah, siapa yang paling berjasa dan merasa paling berat kerjanya dan kemudian harus diapresiasi lebih. Lalu hal ini juga terjadi dalam dunia kerja, baik kantoran maupun tidak. Saya yang pernah bekerja di stasiun televisi sudah cukup kenyang dengan curhat rekan kerja yang merasa bebannya lebih berat dibanding yang lain dan ada yang merasa dirinya kok kurang diapresiasi hanya karena bukan merupakan bagian inti dari sebuah tim, padahal tanpa pihak tersebut sebuah konsep tidak akan menjadi tayangan utuh dan dapat mengudara. Tanpa mau membahas terlalu detail dari urusan perkantoran, dalam membuat komik terutama dimana penulis cerita dan ilustratornya merupakan orang yang berbeda kadang hal membanding-bandingkan ini juga suka diperbincangkan.

Kenapa diperbincangkan? tentu saja karena menyangkut hal yang sensitif, yaitu apresiasi dari hasil kerja bagiannya berupa honor / pembagian bayaran. 

 

“Coba pikir, kerjaanmu kan lebih enak dibanding yang gambar. sebentar doang kok, kalo yang gambar kan butuh waktu lama, lebih capek.” Kira-kira seperti itu omongan yang pernah saya terima maupun jadi bahan diskusi. Tak peduli dari kalangan amatir maupun yang sudah ada di industri.

 

Awalnya memang saya berpikir iya juga, saya nulis cerita berupa storyboard komik sebanyak 24 halaman bisa selesai dalam waktu 3-4 hari saja (kalo ngebut bisa seharian tapi jarang), paling lama seminggu. Bandingkan dengan ilustratornya yang kadang butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikannya (kalo ngebut bisa seminggu kali ya), kalau berwarna lebih lama lagi.

“Nah enak kan. jadi pembagian bayarannya banyakan ilustratornya, yah.”

 

TUNGGU! Jangan seenak itu menentukan gedean mana!

iya 3-4 hari itu nulisnya, tapi jangan lupakan proses bagaimana saya akhirnya bisa menulis cerita itu dalam waktu sependek itu. Capek jelasinnya, jadi saya jabarkan saja pengalaman dalam menuliskan cerita-cerita dari komik saya berikut:

 

329541_10150355606630021_710780020_10087627_7902047_o.jpg
Saya bersama kru tim Reportase Pulang Kampung 2011 di jalur Pantura

5 MENIT SEBELUM TAYANG. Komik yang dibuat akhir tahun 2011 ini tidak serta merta begitu saja langsung saya tulis. Setelah satu tahun lebih terkatung-katung tidak punya uang demi ngomik, akhirnya saya cari kerja dan diterima di sebuah stasiun televisi. Selama bekerja saya suka dengar curhat rekan kerja di kantor, 2 tahun berlalu dan saya masih belum berani untuk segera menuliskan cerita mengenai kehidupan di balik dapur televisi ketika Makko mengusulkan untuk mengomikkannya. Saya kemudian diam-diam mendatangi lokasi yang suka diceritakan rekan kerja seperti palhit, jalur kereta, dll. Saya ngefotoin suasana kantor diam-diam supaya lebih natural, lalu memperhatikan lebih detail mengenai pekerjaan yang dilakukan para reporter dan kameramen. Baru saya mulai menuangkannya dalam sebuah storyboard komik. Jadi ada 2-3 tahun proses depresi, mencari kerja, meriset dan memperhatikan detail sebelum saya menghabiskan waktu sekitar 3 hari untuk membuat chapter 1 storyboardnya untuk dipitch lalu di-Oke-in Makko. Setelah itu saya nanya-nanya, foto-foto lagi dan hal lainnya sebelum membuat chapter-chapter selanjutnya. Kekayaan wawasan inilah yang menjadi salah satu penyebab komik ini meraih penghargaan 6th Silver Manga Award Prize.

5 menit sebelum tayang_resign02_p015.jpg
Seusai mendengar curhatan, saya mendatangi lokasi dan memotretnya untuk referensi

 

denah copy n.jpg
Saya membuat denah berdasarkan foto-foto untuk memudahkan menggambarkannya

 

SURYARAKA. Beberapa buku sejarah sudah saya baca sebelum mulai menulis cerita ini. Dan uang pribadi yang sudah dikeluarkan untuk datang ke Trowulan melakukan riset serta rasa capek juga termasuk dari proses yang saya lakukan sebelum membuat satu chapter storyboard komiknya dalam dua minggu berikutnya. Dan asal tahu saja, sebelum jadi Suryaraka sebetulnya saya sudah membuat ceritanya 150an halaman tamat dengan judul berbeda dan sudah di-oke-in sebuah penerbit sampai akhirnya proyek tersebut batal. Akhirnya cerita itu saya scrap dan ditulis ulang begitu ada tawaran dari penerbit lain, Kosmik. Jadi cerita ini sudah mendem 4 tahunan sebelum akhirnya keluar walau harus ditulis ulang.

11218828_10204934978230008_3796966263546204719_n.jpg
Mendatangi kolam segaran di Trowulan untuk mendapatkan inspirasi langsung

 

facebook.jpg
Salah satu inspirasi komik Galau Man

GALAU MAN. Mungkin kalian berpikir kalau ini adalah komik yang gampang dan simpel nulisnya. Tidak butuh riset dan lainnya. Namun sejujurnya sebelum akhirnya saya mendapatkan ide pahlawan yang berubah dari kegalauan, saya sudah mengajukan 3 konsep cerita yang ditolak. Lalu saya diusulkan untuk menulis cerita tentang romantisme di kehidupan perkantoran berhubung saya juga adalah karyawan kantoran perusahaan besar, siapa tahu bisa dapat ide bagus. Ngonsep, nulis, ngonsep, nulis, dari cerita tentang orang yang rela melaukan apa saja demi meraih pujaan hati sampai akhirnya terbersit ide nyeleneh, berubah karena ditolak. Jadi tidak segampang itu menemukan ide yang kelihatannya biasa saja, lalu meramukannya supaya menarik. Tidak sesimpel itu saya menghasilkan ide gimana kalau aplikasi medsos di gadget bisa jadi kekuatan para villain dan sebagainya, tetap butuh riset. Serius, saya tadinya nggak make foursquare, instagram, apalagi twitter yang isinya banyakan tulisan. Satu persatu saya install dan gunakan, merhatiin penggunanya ngapain aja dan fitur medsos itu apa aja. Sampai menentukan kekuatan aplikasi itu apaan, ya itu tetap riset. Nggak langsung saya ngehabisin 10-15 menit ngetik deskripsi karakter terus minta ilustrator ngedesain tampilannya.

status facebook galau.png
nongkrongin TL ngeliat isi kegalauan juga riset loh!

 

Lalu mengenai bagaimana saya bisa membuat beberapa cerita komik sekaligus? saya merasa saya bisa melakukannya karena beberapa hal yang dibutuhkan untuk cerita itu (sejarah dan pengetahuan) cerita seperti Suryaraka, Jamu Sakti, Bataavia  sudah saya lakukan jauh-jauh hari karena rasa ketertarikan saya. Saya sempat membaca hal-hal tentang kolonialisme makanya saya kepikiran cerita Bataavia dan bisa menuangkannya sembari membuat Galau Man dan lainnya. Kalau saya tidak tahu apa-apa tentang Batavia sebelumnya maka tentunya saya akan butuh waktu lama dan menghabiskan banyak tenaga sehingga tidak yakin apakah bisa membuat ceritanya di tengah kesibukan membuat cerita Galau Man dan Suryaraka.

 

Ya, yang jelas ada proses sebelum saya memulai membuat cerita komik-komik. Ini yang suka dilewatkan karena gak keliatan.

Dan lagi, tingkat kesulitan membuat cerita komik memang berbeda-beda sih. Tapi buat dibahas di lain waktu aja kali, yah.

 

Lalu kalau ada yang masih bilang enakan jadi penulis komik karena bisa menulis banyak komik sekaligus, saya cuman bisa bilang ya silahkan lakukan hal seperti saya. Cari liustrator yang mau bekerjasama, yakinkan mereka dengan ceritamu, gol-kan ke penerbit dan terutama hadapi semua deadline yang ada.

nulis komik.jpg
Setelah saya bertele-tele diatas, ternyata penyebab saya lama menulis komik adalah hal lain…

Berhubung udah bayar hosting buat bikin blog, selanjutnya nulis apa lagi ya?

 

2 thoughts on “Penulis Komik Part 2 – Semudah itukah menulis komik?

Add yours

  1. akhirnya ada blog penulis komik :”’)

    bener ini mas, menulis itu kadang banyak proses ‘abstraksi’ nya yang nggak kelihatan,
    dan untuk yang bilang cerita itu bikinnya cepet, itu nggak 100% bener. Inceptionnya Nolan develop nya 10 tahun, ide nya disimpan terus untuk nemu cara eksekusi yang terbaik. Arrival nya Dennis juga developnya lama banget dari cerpen nya Ted Chiang, Ted Chiang aja developnya pasti nggak sebentar, dan berubah jadi bentuk film butuh waktu lama …

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: