BARA The Dark Age of Banda : Ngomik bersama pembuat film

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman dalam membuat komik BARA yang merupakan hasil kerjasama antara Kosmik dan Lifelike Pictures. Komiknya sih sampai saat saya menuliskan blog ini masih dalam pengerjaan, tapi saya mau bercerita mengenai proses pre production komiknya. Bagi yang mengikuti kiprah ngomik saya sejak awal debut, tentunya tahu kalau saya pernah membuat komik MERDEKA di Bukit Selarong dan MERDEKA di Sunda Kelapa. Ya, saya memang sudah terobsesi dengan sejarah sejak lama. Sejak komik MERDEKA, sudah ada dua judul lain yang bersinggungan dengan sejarah, Bataavia dan Suryaraka. Tapi di Bataavia saya hanya mengambil setting saja, sedangkan yang benar-benar sejarah adalah Suryaraka yang menceritakan keruntuhan Singhasari dari sudut pandang pemuda bernama Agni.

Namun ada hal yang berbeda pada komik BARA ini, karena ini adalah hasil kerjasama dengan Lifelike pictures yang memproduksi film BANDA the Dark Forgotten Trail. Ada beberapa hal yang mendapatkan treatment berbeda dalam proses pembuatan komik dibanding yang saya lakukan selama ini, terutama saat preproductionnya.

Sebelum saya lanjut, ijinkan saya curhat dari pengalaman yang didapat dari membuat komik berlatar sejarah selama ini.

 

“BIKIN KOMIK SEJARAH ITU UDAH SUSAH, GAK BANYAK YANG BACA, TAPI YANG LANGSUNG NYINYIR BANYAK.”

 

Susah soalnya harus ngeriset sejarah dulu

Gak banyak yang baca karena ya emang ga banyak yang tertarik sama sejarah

Langsung nyinyir karena baru ngeliat sinopsis, desain, belum baca komiknya langsung komen udah kayak pakar sejarah harusnya begini begitu

strip nyinyir komik sejarah.jpg

 

Makanya saya selalu mikir-mikir untuk membuat komik berlatar sejarah lagi dan merasa bersyukur bila ada yang mau menerbitkan/membantu membuat komik seperti ini. Terima Kasih. Dan juga terima kasih untuk yang sudah mensupport dengan membeli komik saya, sekali lagi Terima Kasih Banyak.

Oke, saya akan langsung lanjut ke berbagi pengalaman dalam preproduction komik Bara yang berbeda ini.

 

  1. Tidak ada storyboard, desain, dan sample komik. Cerita/Plotnya harus sudah oke dulu baru lanjut.

Selama ini tiap saya mengajukan cerita komik ke penerbit biasanya sudah membuat storyboard komik satu chapter, jadi sudah kebayang seperti apa cara bercerita komiknya. Kalau belum menemukan penggambar, biasanya saya sendiri sudah membuat draft konsep desain karakternya seperti apa. Tentunya selain premis, sinopsis, dan plot paling tidak 4-6 chapter komiknya. Tapi tidak untuk komik BARA ini. Saya diminta untuk membuat plot detailnya yang terbagi dalam beberapa babak layaknya film secara cukup detail. Saya cukup kesulitan disini karena membuat cerita keseluruhan lalu mempresentasikan ke banyak orang merupakan hal yang baru buat saya. Apalagi proses asistensi dalam ruang meeting yang diisi banyak orang, padahal biasanya sama editor saja. walau sesekali ada pihak lain dari penerbit juga ikutan, tapi pressurenya berbeda dengan meeting komik BARA.

 

DSC01753.JPG

Setelah rangka keseluruhan cerita oke, baru saya mulai membuat storyboard, Kello mulai mendesain karakter, dan lanjut ke pembuatan komiknya.

 

2. Ini adalah kolaborasi bukan karya sendiri

Awalnya saya menulis bebas sesuai imajinasi saya sendiri sampai akhirnya keluar dari jalur, yaitu ini adalah bagian dari film dokumenter sejarah BANDA The Dark Forgotten Trail. Berhubung sejarah banda itu banyak sekali yang menarik dan saya ingin mencoba menceritakan semuanya dalam satu kesempatan akhirnya jadi melenceng jauh dari sejarah. Saya sempat mencoba menggabungkan peristiwa perang di Banda dan pertukaran pulau Run bersama Inggris. Mungkin kalau ini adalah komik saya sendiri, hal itu lumrah saja terjadi. Tapi disini saya sadar kalau ini adalah komik produksi kosmik dan lifelike pictures, ada misi memperkenalkan sejarah disini. Namun akhirnya saya menemukan solusi, nantinya beberapa kisah sejarah lainnya akan dibuat dalam bentuk komik strip. Semoga dengan ini jadi lebih menarik perhatian orang dengan tetap pada jalurnya juga.

 

sketsa 00 chapter 01 n.jpg

 

Yang jelas saya belajar banyak dalam membuat komik dengan beberapa pihak yang memegang satu IP dalam komik BARA ini.

 

3. Riset lokasi yang seru

Sebelum lanjut, saya menginfokan kalau Abdul Kholik (Kello) yang menggambar komik BARA baru sembuh dari sakit dan tidak bisa beraktifitas luar yang berat, makanya dia tidak bisa ikutan survey. Kita bekerjasama via internet.

 

Saya adalah tipe orang yang berusaha untuk mendatangi lokasi yang akan dijadikan setting dalam komik yang akan dibuat. Dan ini adalah salah satu kesulitan apabila lokasinya jauh dari tempat tinggal saya. Seperti ketika membuat MERDEKA di Bukit Selarong, saya yang waktu itu masih ‘pengangguran’ yang nggak punya uang, tidak mampu untuk pergi ke Gua selarong untuk sekedar melihat seperti apa sih guanya. Akhirnya saya hanya mengandalkan google image dan ujung-ujungnya mengandalkan fantasi. Toh, komiknya juga fiksi di dunia buatan. Tapi tetap saja saya merasa risih sebetulnya. Lalu ketika akhirnya memiliki cukup uang, saya rela merogoh kantong pribadi untuk mampir ke Trowulan, Mojokerto, waktu akan membuat komik Suryaraka. Disini saya merasakan perasaan tenang, karena kalau ditanya apa-apa paling tidak saya sudah mendapatkan gambaran mengenai lokasi dan bangunan kerajaan di masa lalu itu seperti apa. Nah, begitu membuat komik BARA ini baru saya merasakan riset lokasi paling seru, asyik dan paling menyenangkan.

Menyenangkan soalnya kali ini saya tidak keluar uang untuk melakukan riset/survey lokasi XD

 

DSC09013.JPG
Kapal cepat yang membawa saya sampai ke pelabuhan Banda Neira

 

Tapi jujur saja, waktu masih kerja di TV saya suka ngiri ngeliat tim produksi film maupun program TV yang akan pergi ke lokasi untuk liputan maupun survey sebelum syuting. Saya mendambakan kalau hal seperti itu dapat terjadi dalam membuat komik. Dan akhirnya kejadian di komik BARA, saya diberangkatkan untuk merasakan atmosfir Kepulauan Banda selama 5 hari 4 malam. Saya juga jadi sempat menjejakkan kaki di kota Ambon karena kalau mau ke Banda harus naik kapal cepat dari Ambon.

 

“Ockto the Explorer”

 

saya yang biasanya jadi hikkikomori, ngendon di kamar aja, tiba-tiba jadi petualang, explorer, karena rasa penasaran saya menguasai tubuh dan pikiran. Saya menjelajahi hampir semua pulau di Kepulauan Banda, sendirian pergi kemana-mana sampai ngerusakin motor penduduk. Habis kapan lagi bisa ke Banda. wkwkwk.

Seru soalnya saya datang pas kru film BANDA  The Dark Forgotten Trail masih syuting di hari-hari terakhir. Mereka syuting sekitar 3 minggu dan saya datang di 2-3 hari terakhir syutingnya, jadi saya sempat melihat ribetnya orang bikin film. Di hari pertama saya naik perahu bareng kru, mbak Lala Timothy dan mas Jay, menuju Banda Besar (kami nginap di pulau Banda Neira). Sesampainya di lokasi syuting, usai melihat-lihat saya langsung disiapin ojeg sam mas Ariel (PA film Banda) untuk berkeliling Banda Besar. Menariknya, ada satu benteng namanya benteng Concordia yang saya tahu usai membaca buku yang ingin saya datangi. Salah satu tujuan utama saya adalah mengunjungi semua benteng yang ada, namun kru bilang mereka dapat informasi kalau bentengnya sudah tidak ada/hancur. Saya yang penasaran tetap meminta kesana, satu ojeg menolak karena jalurnya sulit dan satu lagi mau setelah berkali-kali meyakinkan saya kalau jalanannya berbatu ngegojlek-gojlek tapi saya tetap bersikeras mau kesana.

 

nembus bukit.JPG
Perjalanan menembus bukit, jalannya yang terjal sulit dilalui kendaraan.

 

Setelah memotong bukit, satu jam lebih pantat sakit kena gojlek-gojlek jalanan berbatu, akhirnya sampai juga. Ternyata bentengnya masih ada dan hampir utuh dindingnya. saya videokan, lalu istirahat sambil melihat aktivitas di pelabuhan desa wayer, dan kemudian kembali ke lokasi syuting. (Per motor rusak pas sampe lokasi, untung mas ojegnya baik, gpp nanti tinggal diganti katanya).

 

DSC09744.JPG
Bapak ojeg yang nganterin saya beberapa kali jalan ngedorong motor karena jalanan masih belum selesai dibangun.
ojeg.JPG
Bersama bapak yang sudah saya repotkan nganter ke benteng Concordia, maaf saya lupa nama bapak T^T

 

Mbak Lala nanya bagaimana tadi? saya jawab ketemu bentengnya, dan menunjukkan videonya. Mbak Lala kaget dan kemudian menunjukkannya ke Mas Jay yang kemudian meminta kru untuk mengambil gambar benteng itu besoknya. Seusai syuting, bang Oscar (salah satu unit Camera film Banda) bilang kalau untung saya kesitu. Kalau nggak, mereka bakal kelewatan satu gambar bagus. Begitulah awal mula saya dijuluki petualang. Haha. Tapi beneran si, setelah nonton filmnya di press screening saya sadar kalau hasil penemuan benteng concordianya kepake banget di scene tentang penjelasan nama-nama benteng.

 

14597441_1164454493604335_6400443535325134848_n.jpg
Menemukan Benteng Concordia yang katanya udah gak berbekas.
concordia.JPG
Kalau anda sudah menonton filmnya mungkin menyadari footage benteng concordia yang kokoh berdiri tepat di pinggir laut.

 

Dan memang, selanjutnya saya benar-benar bertualang sih. Ketika di hari berikutnya saya ikut kru menuju pulau Ai, usai berkeliling di benteng Revenge saya bilang mau mampir ke pulau Run dan ngeliat pulau Nailaka yang kecil. Oh iya, kepulauan Banda terdiri dari 6 pulau dan 4 pulau kecil tak berpenghuni kalau tidak salah ingat. Pulau Run dan Ai berdekatan dan ada di ujung. Dan kemudian saya ke pulau Run sendirian, iya sendirian, kesannya si ngenes sendirian tapi buat saya justru buset gokil banget! gimana nggak gokil? itu satu kapal dengan 2 awak kapal ngelilingin pulau Run dan Nailaka cuman buat saya sendiri!! Asli kalau sendirian ga bakal kebayang si, maksudnya biaya kapalnya aja udah berapa terus make sendirian buat ngeriset.

Saya pun turun di pelabuhan di pulau Run dan mengelilingi pulau sampai saya tersesat di tebing curam. Serius, saya nekat nerobos pagar yang ada peringatan soalnya kirain untuk ke bekas tempat VOC ada disitu ternyata nggak. Untung muter-muter ketemu rumah penduduk dan akhirnya dikasih tahu arah. kemudian hal gokil lain terjadi, saya udah jalan menembus hutan mau ngeliat ujung dibalik pulau yang katanya bagus tapi takut kelamaan akhirnya balik lagi. Tapi pas cerita ke awak kapal, mereka nawarin untuk nganterin kesana setelah mencari ojeg yang tak kunjung muncul. Kapal pun memutari pulau buat saya sendiri, dan ketika sampai di pantai kecil di balik pulau saya digendong supaya kaki tidak basah kena air laut. Habis disini tidak ada pelabuhan dan kapalnya tidak bisa sampai ke bibir pantai yang kering. Buset dah, padahal niat saya cuman mau lihat-lihat sebentar dan emang setelah 20-30 menit naik tanjakan dan foto-foto tebing dan pantai berbatu saya langsung kembali ke pulau Ai. Sekali lagi wow, ini perjalanan privat yang nggak akan bisa saya dapatkan lagi mungkin.

 

DSC00199.JPG
Satu kapal dan dua awak kapal yang nganterin saya bertualang ke pulau Run sendirian, berasa kayak tamu VIP.

 

Lalu di hari ketiga, ketika libur usai syuting saya dan kru naik gunung api. Dimana dari awal saya memang sudah berangan-angan untuk menapaki puncak gunung yang ingin saya jadikan salah satu setting cerita. Untungnya di hari libur sebelum kembali ke Jakarta ini kru-kru film pada mau naik gunung jadi saya bisa ikutan. Senang!

 

15046789_1360520227300423_4528237097378643968_n.jpg
Bersama kru film Banda dan warga Banda asli di puncak gunung api kepulauan Banda.

 

Berkat keliling-keliling pulau Banda Neira pun saya jadi bisa berinteraksi dengan warga yang kebanyakan tidak tahu kisah kepulauan tempat tinggal mereka yang kaya akan nilai sejarah. Semoga dengan film dan komik ini masyarakat Indonesia jadi tahu, seperti saya yang jadi tahu banyak begitu sampai kesana. Saya berharap supaya saya bisa melakukan riset seperti ini lagi di komik-komik saya yang lain.

 

4. Kebersamaan bersama kru film yang menambah semangat

Waktu di TV saya pernah ikutan liputan arus mudik. Berpanas-panasan, kena debu, makan bareng dan banyak hal lain yang dilakukan bersama-sama memberikan atmosfir tersendiri dan memberikan semangat berbeda dibanding waktu diam saja di ruang editing menunggu hasil liputan. Dan kini, saya merasakan syuting bersama kru, makan bareng, naik gunung bareng, ngobrol-ngobrol sejenak, dan terutama ikut merayakan wrap up party entah kenapa membuat saya semakin bersemangat untuk memberikan yang terbaik pada komik BARA.

 

15203329_10154091201639013_7559023359526536361_n.jpg
Bersama kru film Banda di pulau Banda Besar usai syuting di kediaman Pongky Van Den Broeke

 

Apalagi pas wrap up party, acara syukuran syuting telah selesai, ada banyak games-games seru. Kata krunya sih baru ngerasain games-games berhadiah, salah satunya iphone, di produksinya lifelike pictures. Yang jelas walau saya hanya nonton dan makan saja, ini cukup menggugah hati. Sayang penggambar komiknya, Kello, tidak bisa ikutan.

 

15203294_10154099559869013_1490116103776883194_n.jpg
Wrap Up Party di hotel Nutmeg Tree yang dikelola Bang Reza, salah satu pemerhati Sejarah Banda.
DSC_1535.JPG
Hidangan Seafood Wrap Up Party, cemilan lainnya menyusul :p

 

5. Storytelling Eropa

Setelah mendapatkan kerangka cerita dari awal sampai akhir, sejujurnya saya ketakutan bagaimana bisa menceritakannya dalam 200++ halaman cerita komik sesuai rencana. Sebab kalau dari cara saya bertutur yang sangat terpengaruh oleh komik Jepang rasanya mustahil. Oleh karena itu, saya pun mulai memikirkan alternatif lain.

 

Bara#02_isi_LRF_P02.jpg

 

Walau bisa dibilang saya adalah penggemar komik Jepang, tapi saya juga membaca komik Eropa dan Amerika. Dan menurut saya cara bertutur komik Jepang sangat berbeda dengan komik Eropa maupun Amerika. Cara bertutur komik Jepang sangat detail tiap adegan, tiap ekspresi, hingga akhirnya adegan pertarungan pun bisa habis satu chapter tersendiri dimana dalam komik Eropa dan Amerika bisa saja selesai dalam 1-3 halaman saja. Dengan pertimbangan inilah saya memutuskan untuk mencoba mengadopsi gaya bertutur komik Eropa dan belajar dari komik Master of Arms karya Xavier Dorison dan Joel Parnotte, setelah mencoba-coba mencari referensi lain termasuk dari komik Amerika. Cerita sepadat feature film saya coba tuangkan dalam 200++ halaman komik dan terbagi dalam 4 buku komik full color. Ya, bisa dibilang ini adalah tantangan sendiri juga buat saya. Mencoba melakukan gaya bertutur yang jarang saya lakukan sebelumnya.

Saya berharap cara bertutur saya yang berbeda dari yang biasa saya lakukan ini berhasil dinikmati pembaca.

 

05 - lineart_bara_chapter_02_06_color kecil.jpg

 

***

Sejujurnya saya senang dengan project ini karena bersinggungan dengan sejarah dan menambah wawasan saya mengenai sejarah daerah timur indonesia. Sebab sebelum ditawarin proyek ini, saya benar-benar tidak tahu apa itu pulau Banda. Saya tahu JP. Coen yang pertama kali membuat pusat perdagangan VOC di Batavia, tapi saya tidak tahu banyak kiprahnya sebelum di Batavia yang ternyata gelap sekali.

Terima Kasih banyak kepada Lifelike Pictures dan Kosmik yang memberikan saya kesempatan membuat komik BARA ini dan juga kepada pembaca yang mendukung komik fiksi sejarah ini.

Komik BARA The Dark Age of Banda bisa dibeli online lewat https://kosmik.id/store dan https://www.tokopedia.com/kosmikstore

PO sebelum Popcon dapat bonus print A5

20294181_1596000737108877_8019972338336350932_n.jpg

Ockto the Explorer di pulau Banda akhirnya pulang ke rumah dan menjadi hikkikomori lagi XD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “BARA The Dark Age of Banda : Ngomik bersama pembuat film

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: