Komik Cetak dan Webtoon, Terjebak atau Beradaptasi? – Renungan Akhir Tahun 2017 Part 1

Saya termasuk generasi milenial yang merasakan perubahan jaman teknologi dari analog ke digital. Bagaimana dulu punya walkman udah mewah banget dan suka membuat mixtape sendiri hasil rekam lagu dari beberapa kaset yang saya beli dan dari siaran radio. Namun sekarang cukup berbekal sebuah smartphone sudah bisa dengar banyak lagu di spotify tanpa memenuhi tas dengan kaset-kaset lagi. Rasanya baru berapa tahun tapi semua berubah dengan cepat, seperti TV yang dulu saya gunakan untuk nonton acara TV tapi sekarang lebih banyak saya gunakan untuk menyetel Netflix dan Youtube.

 

Nostalgia rasanya padahal sebetulnya itu kayak baru beberapa tahun yang lalu… ngg…. udah lama si sebenernya. Lalu masuk ke industri hiburan yang saya geluti, yaitu komik. Terjadi perubahan yang bisa dibilang sangat signifikan juga dari yang saya lihat, karena membaca panel-panel tutur gambar kini sudah tidak harus dalam bentuk cetakan lagi melainkan bisa dibaca di smartphone juga. Saya katakan panel-panel karena formatnya pun berubah dari yang biasanya kiri ke kanan lalu balik halaman kini jadi scroll atas ke bawah, berbeda sekali dengan komik konvensional. Walaupun format webcomic dimana cara baca komik cetak tapi dialihkan ke digital tetap ada, tapi webtoon adalah cara baca yang lebih populer. Setidaknya di Indonesia.

 

stan lee.jpg

 

Well, saya pernah membaca hal ini beberapa tahun yang lalu ketika webcomic mulai naik dan banyak yang setuju dengan pendapat Stan Lee. Namun seiring waktu rasanya hal ini bisa pudar, setidaknya di sepanjang pengetahuan saya. Kenapa? karena anak-anak sekarang lebih kenal webtoon dibanding komik. Saya memang tidak pernah mencari data langsung, tapi dari obrolan dengan teman-teman banyak yang bilang kalau anak SD-SMP sekarang tahu komik ya dari Webtoon. Dan saya kaget waktu ponakan saya yang masih kelas 3 SD tiba-tiba nyeletuk, “ih Uda, ada webtoon juga?”. Ponakan saya ngomong gitu waktu ngeliat ada logo aplikasi Line webtoon pas nyari game di smartphone saya (padahal game justru tidak ada). Jadi ternyata ponakan saya pernah baca webtoon juga.

 

Ya, di saat membaca webtoon itu mudah sekali di genggaman smartphone, dan terutama gratis. Mereka yang kenal cara membaca panel-panel tutur gambar / sekuensial art scroll ke bawah mungkin tidak akan setuju apalagi mengerti apa pendapat Stan Lee. Soalnya nyentuh buku komik cetak juga jarang atau belum pernah kali. Jadi ya sensasi kenikmatan pertama kali mengenal cerita dengan panel-panel tutur gambar mereka juga sudah berbeda dengan generasi dulu. Dan satu hal lagi, yang ditulis di atas adalah ‘looks good on a computer’, padahal sekarang eranya dibaca di smartphone bukannya komputer. Saya tidak tahu meme di atas benar perkataan Stan Lee atau tidak, tapi terlepas dari itu perubahan pun sudah terjadi sejak beberapa tahun meme itu muncul. Mobile di smartphone sudah menggeser cara membaca dari komputer/PC. Bagaimana tidak, sambil nunggu antrian, nunggu servis motor, nunggu meeting, semua bisa diisi dengan membaca di smartphone.

 

Webtoon semakin populer dibanding komik cetak? Muncul dilema buat saya sebagai pembuat komik, haruskah beralih haluan?

 

Seharusnya sebagai pembuat konten saya tidak perlu terlalu pusing mikirinnya, pindah ya tinggal pindah aja. Tapi karena ada rasa kayak yang dibilang Stan Lee itu yang sempat menahan saya. Dan saya yakin bukan cuman saya yang merasakannya, paling tidak itu dari yang saya dapat dari hasil obrolan dan juga iseng stalking-stalking di medsos. Mungkin komikus generasi saya masih banyak yang berpikiran kalau merasa kurang kalau komiknya belum dicetak, makanya lebih memilih untuk mengirim karya ke penerbit komik cetak. Sedangkan yang generasi baru rasanya oke-oke saja langsung bikin webtoon, malah mungkin mereka tidak tahu kalau nerbitin komik cetak bagaimana caranya. Terutama teknis seperti paskris, geser kanan untuk halaman ganjil, jangan tarok gambar penting di kanan untuk halaman genap supaya gak ketutupan binding, dan lainnya yang dapat mempengaruhi hasil cetak dan kenyamanan membaca.

 

Terlepas dari apa yang dikatakan Stan Lee, saya akan lebih fokus membahas webtoon dibandingkan webcomic karena sepertinya pembaca format webtoon umumnya bukan pembaca webcomic. Hal ini dikarenakan webtoon diuntungkan oleh aplikasi dan kemudahan membaca sesuai cara penggunaan smartphone. Dan membaca komik digital secara masif bisa dibilang baru terjadi ketika Line Webtoon masuk, subscribernya mencapai jutaan pembaca. Jauh sekali jumlah pembacanya dibandingkan waktu saya masih membuat komik online / webcomic di MAKKO, walau ketika itu juga komiknya bisa dibaca gratis. Dan webcomic-webcomic lainnya di indonesia saya rasa belum pernah ada yang mendapatkan lonjakan pembaca semasif webtoon.

 

dulu toko buku sekarang webtoon.jpg

 

 

Begitulah, jaman berubah dimana sekarang bikin komik malah ditanya linknya mana? udah lebih untung dibanding dulu malah diminta file pdfnya sih…. tapi ya gitu. Padahal industri komik indonesia di lini cetak belum seberhasil kayak di luar, tapi tiba-tiba langsung datang platform baca mobile ini yang langsung populer sekali dan meraih banyak pembaca baru yang tadinya tidak membaca komik cetak Indonesia.

 

Secara pribadi, ada satu hal yang lucu buat saya sendiri. Dulu saya suka berpikiran kalau komik-komik indonesia di masa keemasannya kenapa nggak diremake aja si? kenapa masih saja diterbitin versi dulunya itu? Kenapa masih terjebak dalam masa nostalgia dan berharap anak-anak muda dengan mudah jadi suka komik-komik lawas dengan gambar yang masih dibuat puluhan tahun lalu. Dimana sekarang toko buku sudah dibanjiri komik-komik terjemahan dari jepang dengan cerita yang lebih menarik, beragam, dan gambar lebih asyik untuk dilihat.

 

Lalu kini, tiba-tiba saja komik-komik lawas itu sudah mulai diremake dan langsung diterbitkan secara digital di medsos maupun webtoon. Ceritanya ada yang diolah supaya cocok dengan pembaca sekarang dan gambarnya pun menggunakan style yang cukup digemari di pasar. Konon kabarnya mereka juga gencar untuk merambah platform-platform digital lainnya untuk meraih pembaca baru dengan beradaptasi terhadap era internet ini. Nah, di saat komik-komik yang saya pernah anggap terjebak nostalgia era keemasan itu mulai bergerak, sekarang malah ada komikus yang bisa dibilang masih muda terjebak dalam anggapan “pinginnya komiknya dicetak”. Saya tidak akan menuduh orang lain karena sebetulnya saya sendiri masih merasakan hal ini.

 

bumi langit
Komik Aquanus dan Virgo yang diremake

 

Bukannya saya menghindari terbit di webtoon, malah sebetulnya saya pernah coba ikutan Line Webtoon Challenge walau tidak menang. Sejujurnya saat itu saya ikutan hanya karena mengincar hadiah uangnya, alias Bounty Hunter (makanya nggak dimenangin karena niat tidak tulus kali, *apacoba). Tapi makin kesini baru sadar kalau dunia komik mulai bergeser. Lalu… bagaimana kedepannya? Apakah seperti musik digital menggeser kaset mixtape? Apakah seperti saat ini saya yang sudah nyalain TV tapi buat nyetel Netflix saja (selain buat maen PS4)? Entahlah…

 

Screenshot_2017-12-15-10-34-58.png
Webtoon Challenge yang saya buat bersama Ino septian

 

Tapi rasanya buku komik cetak masih memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda pengalamannya dibanding pergeseran pada kaset dan penggunaan TV. Namun kita tidak bisa memungkiri kalau pembaca komik mulai bergeser.

 

Solusi terbaik mungkin adalah beradaptasi tapi tetap mempertahankan komik cetak, buat dua-duanya berjalan berdampingan. Komik yang digemari dalam format webtoon kemudian dibuatkan versi cetaknya untuk pembaca yang ingin memiliki koleksi secara premium. Apa yang sudah berjalan secara bersambung di lini cetak tetap dipertahankan dan untuk meraih pembaca lebih banyak bisa dibuatkan versi webtoonnya juga. Jangan sampai terjebak di salah satu platform.

 

Cukup sulit untuk mengubah kebiasaan cara bertutur dari komik konvensional menjadi format webtoon scroll ke bawah.

 

Tapi sudah saatnya beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Jangan sampai ikut-ikutan terjebak nostalgia enaknya menghirup bau tinta komik cetakan, tataplah layar-layar yang kini bisa kita sentuh. Karena kita tidak tahu sampai sejauh mana layar yang menghiasi hidup kita ini juga berubah dari sekedar kaca hingga bisa disentuh dan memberikan respons.

 

Entahlah, yang jelas tahun depan saya secara pribadi mungkin akan mulai fokus mencoba merambah gaya bertutur scroll ke bawah ini. Sambil terus mempertahankan lini komik cetak saya. Bahkan seperti yang saya tulis di atas, semoga dua-duanya bisa saling menguntungkan.

 

Platform Webtoon yang masuk ke Indonesia sendiri mulai banyak, seperti Line, Ciayo, BBM Comics, dan yang terbaru adalah Comico Indonesia. Dan penerbitan komik cetak sendiri masih siap menerbitkan komik yang kita buat seperti lini komik Elex, M&C, dan tentunya Reoncomics.

 

Dan pada akhirnya, daripada terus dilema sebaiknya sebagai komikus/webtoonist/author/kreator mau nerbitin komik cetak atau format webtoon? Sebaiknya fokus untuk menyediakan konten bacaan yang menarik. Karena mau apapun platformnya kalau kontennya tidak menarik ya tidak akan membuat pembaca mau mengikuti karya kita, kan?

 

comico.jpg
5 Menit Sebelum Tayang terbit di Comico Indonesia tahun 2018

 

Tahun depan komik saya pun mulai merambah format webtoon di Comico Indonesia, 5 Menit Sebelum Tayang dan Tarung Legenda. Semoga bisa tetap terus menyumbangkan energi bagi dunia komik Indonesia.

 

insta keong mas.jpg
Tarung Legenda terbit di Comico Indonesia tahun 2018

 

Mari tetap semangat ngomik, MERDEKA!!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: