GUNUNG FUJI DAN TAKAO : KETIKA HOBI NGOMIK JADI PROFESI, TEMUKAN HOBI LAIN

 

cover.jpg

Belakangan ini saya mulai jarang aktif ngomongin komik, baik di media sosial maupun kehidupan sebenarnya. Bisa dibilang sejak akhir tahun lalu sebetulnya saya sudah mulai mencoba menjauhkan diri dari lingkungan komik. Tapi bukan berarti saya berhenti bikin komik. Mungkin bisa dibilang setelah hampir 9 tahun membuat komik secara profesional (melalui penerbit) saya mulai merasakan perubahan.

001.jpg
Pendakian menuju 7th station Gunung Fuji

9 tahun lalu bikin komik di sini jangan harap bisa makan, tapi sekarang beda. Situasi berubah dengan begitu banyaknya penerbit mencari komikus dengan bayaran yang cukup untuk hidup, dan entah kenapa hal ini mempengaruhi saya. Mungkin bisa juga disebut jenuh karena terlalu lama berkutat di komik, tapi bisa jadi karena saya merasa ketinggalan dalam perubahan jaman ini. Peralihan era komik dari buku cetak ke ranah online bisa dibilang membuat saya keteteran. Saya sempat merasa (hingga saat ini masih) kalau seharusnya saya lebih cekatan mengikuti perkembangan zaman ini dengan membuat komik-komik di medsos maupun format webtoon. Belum lagi genre yang biasa saya buat  (fiksi sejarah) pun berbeda dengan selera pasar kebanyakan. Ditambah beberapa kekecewaan karena saya gagal menyelesaikan komik yang sudah dibuat karena kendala tertentu membuat saya sempat terpuruk.

002.jpg

Terkadang saya merasa iri dengan generasi sekarang yang sudah bisa langsung mendapatkan uang yang cukup dari membuat komik/format webtoon, tapi di pihak lain saya merasa bersyukur sudah melewati fase sulit bertahan hidup dengan membuat komik di kala tidak adanya penerbit maupun uang karena ini melatih mental dan profesionalisme saya sejauh ini. Namun saya sadar ketika uang mulai masuk ke rekening dan bisa ditabung, kegigihan ngomik saya mulai pudar. Dulu saya ngomik di waktu usai kantor maupun weekend, sekarang seharian, semingguan, sebulanan ngomik terus. Saya merasa ada yang harus berubah.

 

003.jpg
Saya mengoleksi stamp di tongkat dalam pendakian gunung fuji ini

Makanya di kala orang-orang berlomba-lomba mencari cara membuat komik dengan cepat untuk mengejar deadline, diposting dan dishare ribuan kali dengan berbagai input dan komentar tambahan. Saya malah sibuk mencari cara supaya jauh dari komik dengan travelling dan terutama melaksanakan hobi baru, naik gunung.

006.jpg
Senang melihat grup lansia tapi masih semangat mendaki gunung Fuji

Sebetulnya saya termasuk orang baru dalam mendaki gunung, makanya kalau dibilang saya ini pendaki saya merasa minder karena biasanya ngedaki karena ikut-ikutan aja. Bangun tenda dan masak masakan biasanya orang lain yang bikinin, haha. Gemar kegiatan ini juga bukan karena film 5 cm, tapi gara-gara di kantor saya dulu ada yang ngadain trip ke gunung rinjani beramai-ramai dan saya iseng ikutan. Dalam hati saya berpikir sebagai seorang penulis komik saya harus menambah wawasan. Dan akhirnya, selain wawasan saya juga dapat hobi baru. Melihat keindahan alam, meneteskan keringat, dan menantang diri sendiri kalau komikus tidak identik dengan fisik lemah karena duduk terus.

 

005.jpg
Mountain Hut tempat saya istirahat tidur sejenak sebelum summit attack sekitar jam 2 pagi.
Suasana makan malam dan penjelasan dari pemilik mountain hut (lupa jelasin apaan)
Summit attack!

6 tahun lalu ketika pertama kali ke Jepang yang ada di pikiran saya adalah ke Akihabara, beli merchandise Evangelion dan ketemu Akira Toriyama. Kamen Rider dan semua yang berbau anime dan manga. Di tahun 2018 ini, ketika heatwave melanda Tokyo saya malah sibuk mencari cara mendaki gunung-gunung di Jepang dan akhirnya berhasil mendaki 2 gunung, yaitu gunung Fuji dan Takao, dan sebelahnya Takao (lupa gunung apa). Saya yang 10 tahun lalu diajak ke luar kota bahkan ke luar rumah tapi malah nolak dan mendem di kamar terus-terusan saja tentu akan kaget dengan perubahan drastis ini.

 

Image may contain: Ockto Baringbing, smiling, standing and outdoor
Di Puncak tertinggi Gunung Fuji setelah memutari kaldera, prefektur Shizuoka

Selama mendaki gunung dan bertemu orang-orang baru pun membuat saya senang, ada dunia di luar sana selain berkutat dengan komik saja. Perdebatan-perdebatan mengenai dunia komik yang biasanya membuat hati saya panas dan merasa ingin ikutan nimbrung mulai saya tinggalkan. Sudah bukan waktunya untuk berdebat hal-hal yang sama terus-terusan. Dan sejujurnya saya mendapat banyak ide cerita ketika traveling yang mungkin suatu saat bisa dijadikan komik. Entahlah, tapi untuk saat ini cukup nikmati saja.

007.jpg
Hiking santai Gunung Takao yang mudah dicapai dengan kereta dari pusat kota
004.jpg
Di Puncak Gunung Takao
008.jpg
Dari gunung Takao bisa lanjut ke gunung-gunung di sekitarnya, saya sempat menjelajahi 1-2 jam namun akhirnya kembali lagi karena takut kesorean.

Pada akhirnya saya mulai merasa bersyukur, kalau dulu 6-8 bulan membuat komik hanya menghasilkan uang yang cukup untuk hidup selama sekitar 2 minggu. Kini saya mulai bisa menabung untuk melakukan kegiatan lain supaya tidak jenuh dalam membuat komik. Dalam hal ini saya menemukan hobi baru naik gunung. Semoga komik Indonesia bisa tetap terus semakin berkembang ke depannya dan saya bisa terus menemukan hal-hal baru lagi. Amin.

WhatsApp Image 2018-08-09 at 14.28.46.jpeg
Saya mengirim kartu pos ini di post office puncak gunung Fuji pada tanggal 25 Juli 2018, sampai di kantor re:ON pada tanggal 9 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: